Blogger templates

 Menutup Aurat Atau Membuka Aurat,... Up to you..??
          
Jilbab bukan lagi menjadi kata yang asing didengar, terlebih belakangan ini, di mana wanita muslimah berbondong-bondong untuk mengenakan jilbab – dengan prasangka baik – bahwa mereka melakukannya sebagai wujud ketaatan akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perasaan nyaman bagi sebagian orang yang mengenakannya, karena pakaian yang dikenakannya akan meninggalkan kesan yang ‘lebih Islami’, terlepas dari cara dan  mode pakaian yang dia kenakan.
 
       Yang tidak banyak disadari, atau mungkin lebih sering diabaikan, bahwa jilbab bukan sekedar mengenakan pakaian lengan panjang, betis tertutup hingga tumit, dada dan leher terhalang dari padangan orang. Bahwa jilbab bukan sekedar membalut anggota-anggota tubuh yang tidak semestinya terlihat selain mahram. Tidak, Jilbab lebih dari itu!
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS Al-Ahzab [33] : 59)
 
     Jilbab sejatinya adalah ‘body covering’, penutup tubuh (aurat) yang akan melindungi seorang wanita, dari pandangan dan penilaian orang lain, khususnya laki-laki, dan bukannya ‘body shaping’, pembalut tubuh yang menampilkan seluruh lekuk liku tubuh seorang wanita, membuat orang menoleh kepadanya.
 
    Jilbab, di tangan wanita muslimah masa kini, telah kehilangan esensinya. Seperti komentar seorang rekan kerja dulu, ketika melihat dua orang gadis remaja berboncengan dengan jilbab yang serba ketat, “Yah.. jilbab sekarang kan untuk membalut aurat, bukan untuk menutup aurat!”
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan:
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,” (QS An-Nuur [24] : 31)
 
    Saat ini, di tangan wanita muslimah masa kini, jilbab itu sendiri adalah perhiasan. Sebagian orang yang mengenakannya justru mengundang orang (baca: laki-laki) untuk melihatnya, Betapa tidak, pakaian terututup yang serba ketat justru menggoda orang ingin tahu apa yang ada di baliknya. Baju model baby doll berlengan pendek, dipadu dengan manset dan jeans atau bicycle pants super ketat, atau jenis pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuh lainnya. Jika sudah begitu lalu apa bedanya dengan pakaian yang lainnya? Tambahan sepotong kain yang dililitkan pada kepala dan leher tidak menjadikan sebuah pakaian dikatakan berjilbab, karena toh yang memakainya masih terlihat seperti telanjang. Padahal Rasulullah telah memberikan peringatan keras, kepada para wanita yang berpakaian tetapi telanjang:
 
 menutup aurat atau membuka aurat ......... up to you..??

“Ada dua golongan penduduk neraka yang sekarang saya belum melihat keduanya, yaitu: wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan memiringkan kepalanya seperti punuk unta, dimana mereka tidak akan masuk surga, bahkan mencium baunya pun tidak bisa” (HR Muslim dan Ahmad)
 
     Hadits ini telah diabaikan, entah karena tidak tahu, atau mungkin tidak diperdulikan! Atau mungkin terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang akan menyebabkannya merasa terasing dari masyarakat, lalu membuatnya mentup mata, hati dan telinga. Atau bahkan yang lebih mengerikan lagi, dengan sengaja memberikan penafsiran berbeda mengenai perintah untuk menutup aurat itu, demi memenuhi hawa nafsunya!
 
     Aduhai, entah kemana perginya rasa takut itu, seolah-olah kehidpan di dunia ini akan berlangsung selamanya dan ancaman manusia mulia, hamba dan utusan Allah untuk memberikan peringatan kepada manusia, tidak berarti apa-apa kecuali hanya sekedar gertak sambak! Na’udzubillah! Entah kemana perginya rasa malu yang seharusnya bermanifestasi pada prilaku dan cara berpakaian? Sebagian besar kita justru terlena pada penilaian kebanyakan orang. “Berjilbab bukan berarti ketinggalan zaman.” Atau, “Dengan jilbab pun bisa tampil modis dan trendi.” Entah mengapa, kita menjadi latah dengan penilaian orang kafir, mengenakan jilbab syar’I adalah symbol keterbelakangan, bahkan yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi akhir-akhir ini, jilbab besar adalah cirri aliran sesat dan pengikut paham esktrimis!
 
    Islam telah memuliakan wanita, menjaga kehormatan wanita dengan menetapkan batasan-batassannya, bukan untuk menjadikan wanita terkekang, sebaliknya bahkan untuk melindungi kaum wanita. Tubuh seorang wanita adalah milik pribadinya, bukan properti umum yang dapat dilirik, ditaksir dan diberikan penilaian. Wanita sejatinya adalah individu yang bebas, ketika dia mengikuti apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya bagi dirinya. Jangan mengira bahwa wania-wanita yang tampil trendi itu adalah orang-orang yang memiliki lebebasam memilih, karena toh mereka terkungkung oleh pandangan orang lain. Sederhana sekali, jika seseorang atau beberapa orang mengatakan kepada anda “kamu cantik dengan baju ini, atau dengan warna itu,” anda lalu mengikuti perkataannya. Padahal cantik adalah sebuah ukuran relatif yang senantiasa berfluktuasi sepanjang zaman. Layaknya mata uang, ia bisa mengalami devaluasi, Lalu di mana letak kebebasan itu, ketika seorang wanita membiarkan dirinya terbawa arus fluktuasi itu? Pilihan orang banyak adalah pilihannya? Pendapat orang banyak adalah pendapatnya?
 
    Pada kenyataannya, jilbab adalah sesuatu yang masih asing di kalangan wanita muslimah, karena yang bertebaran saat ini hanyalah sekedar penutup kepala, pembalut tubuh, trend mode dan bukannya jilbab yang seharusnya berfungsi untuk menutup aurat dengan sempurna. Wallahu a’lam.
 
    Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan istiqamah di atas ketaatan itu. Amin.
 
    Ketat, tansparan, dan membentuk tubuh, itulah ciri-ciri jilbab sebagian wanita masa kini. Tampil cantik dan trendy dengan jilbab menjadi moto sebagian muslimah zaman sekarang. Ya.. cantik.. dengan pakaian tipis dan ketat yang menggoda, pernak-pernik perhiasan yang menggelantung mulai dari kepala sampai pin besar di dada, sapuan make up di wajah, sepatu hak tinggi runcing dengan wangi parfum yang menggelitik sambil berlenggok laksana bandul jam.… lengkaplah sudah wanita menjadikan dirinya layaknya etalase.
 
    Saudariku, sadarkah engkau jilbab ketatmu itu adalah etalase auratmu? Seperti etalase toko yang memajang barang – yang biasanya produk unggulan – untuk menarik perhatian calon konsumen, seperti itulah jilbab ketat yang dipakai sebagaian kaum muslimah, etalase yang memamerkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Dan jika fungsi etalase untuk menarik perhatian calon pembeli… lalu menurutmu apa fungsi jilbab ketatmu itu? Perhatian siapa yang hendak kau pancing agar menoleh ke arahmu?
 
    Saudariku, cobalah menatap dirimu lebih lama.. sedikit lebih lama di depan cermin, dengan perspekif berbeda. Perhatikan pakaianmu ketatmu. Apa yang terlintas di benakmu? Aurat sebelah mana yang berhasil kau sembunyikan dari pandangan orang lain yang bukan mahrammu dengan pakaian transparan atau pakaian ketatmu itu? Tanyakanlah pada dirimu, apa gunanya jilbab bagimu? Untuk siapa engkau mengenakannya? Jika engkau mengenakannya untuk memenuhi kewajiban menutup aurat, lalu di mana letak pakaian ketatmu dalam firman Allah berikut?
 
    (artinya) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu…” (QS Al-A’raf : 26)
 
    Dan Allah berfirman:
(artinya): “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita….” (QS An-Nuur : 31)
 
    Dan juga firman Allah:
(artinya) “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS Al-Ahzab [33] : 59).”
Pernahkah terbetik di pikiranmu bahwa Sang Pembuat Syariat, memerintahkan wanita untuk menutup aurat agar kehormatannya terjaga? Bukankah lekuk liku tubuhmu yang engkau tampakkan dengan jilbab tipismu nan ketat itu justru memancing siulan dan pandangan maksiat dari lawan jenismu? Ataukah memang itu tujuannya? 

Saudariku, jilbab diwajibkan bagi kita untuk menutup aurat, bukan sekedar menutupi kulit! Perintahnya adalah menutupnya dan bukan sekedar membalutnya sehingga tampak lekuk likunya. Menutupnya untuk menghalanginya dari pandangan orang lain, dan bukannya membiarkan orang lain dapat menerawang dan mengenali apa yang ada di baliknya.
 
Banyak kaum wanita meneriakkan protes atas nama kebebasan dan kesetaraan, agar hukum lebih melindungi wanita dari tindak pelecehan seksual, baik berupa perbuatan, perkataan, atau bahkan sekedar isyarat. Tidakkah terpikir olehmu, pakaian ketatmu itu justru mengundang pelaku pelecehan untuk beraksi?
 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673).
 
Ah, saudariku, jangan rendahkan dirimu! Jangan hinakan dirimu dengan menjadikan jilbabmu sebagai etalase auratmu! Jangan jadikan dirimu obyek siulan laki-laki iseng di pinggir jalan. Engkau bukan mannequin, bukan barang pajangan untuk dilirik, dinilai, ditaksir dan diberi label harga yang pantas oleh orang yang memandangmu. Tidak! Engkau jauh lebih berharga dari itu! Bahkan jauh lebih mulia dengan jilbab syar’i. Bangkitlah dan bangun kepercayaan dirimu! Sesungguhnya kecantikanmu bukan pada pakaian yang menampilkan keindahan tubuh, juga tidak pada riasan. Tetapi kecantikanmu akan terpancar dari ketakwaan, akhlak terpuji dan rasa malu, yang salah satunya akan tampak dari pakaian syar’i yang engkau kenakan. Ingatlah bahwa Allah telah berfirman:
(artinya): “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raaf : 26)
Read More >>
 keduniaan yang merugikan akhirat
 
Bismillahirrohmanirrohim......
Bersyukur ke hadrat Allah Taala kerana melahirkan kita ke alam dunia yang fana ini. Kita dihidupkan dan insyallah akan dimatikan dengan izinNya. Kita dipinjamkan jasad dan nyawa untuk beberapa ketika yang diizinkan yang kita sendiri tidak mengetahui kecuali diriNya. Hidup kita mengikut apa yang disabdakan oleh Baginda Rasul sebagai seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan ke suatu destinasi yang jauh dan memerlukan banyak bekalan. Tentunya dalam perjalanan itu banyak halangan dan gangguan yang boleh menjejaskan matlamat untuk ke destinasi. Pengembara yang bijak tidak akan terpengaruh dengan keseronokan dan kebahagiaan sementara yang ditempuh dalam perjalanan kerana dia tahu bahawa dia sebenarnya adalah warga satu alam lagi. Manakala pengembara yang lupa daratan akan menikmati sepuas-puasnya apa sahaja yang ditempuh; seolah-olah iniah dunianya sehingga terlupa matlamat asal untuk menuju ke dunianya yang sebenar. Mereka terpedaya dengan kemanisan dunia dan menyangkakan apa yang dipungut itulah BEKALAN.
Sebagai seorang pengembara, kita seharusnya bijak melayarkan bahtera ke arah yang betul mengikut kompas yang dipiawaikan oleh Rasul. Untuk sampai ke destinasi AKHIRAT, pungutlah bekalan sebanyak mungkin. Anggaplah segala keseronokan duniawi sebagai BEBAN yang boleh menjejaskan perjalanan ke sana. Ingatlah pesanan orang tua : Kita sebenarnya adalah WARGA AKHIRAT - tempat yang kekal abadi; sementara dunia ini ialah rumah tumpangan sementara yang penuh kepalsuan dan tipu-daya. Oleh itu kita mestilah bijak memilih mana satu BEKALAN dan mana satu BEBAN. Barangan yang dikategori sebagai BEBAN akan menyusahkan perjalanan ke akhirat manakala barangan BEKALAN akan berfaedah untuk kehidupan di sana. Kutiplah bekalan sebanyak mungkin dan hindarkan memikul beban yang menyulitkan perjalanan.

Ingatlah: "Dunia ini sebagai tempat bercucuk tanam. Hasilnya kita akan kecapi di Akhirat nanti."
"Beramallah untuk dunia seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Beramallah untuk akhirat seolah-olah kamu akan mati keesokannya." - Atsar

 keduniaan yang merugikan akhirat


Ramai mentafsirkan Atsar ini dari segi keduniaan iaitu kerja bersungguh-sungguh kerana kita akan hidup lama di dunia. Tetapi makna yang tersirat ialah kita hidup lama lagi di dunia jadi kenapa nak bekerja beria-ia mencari pendapatan lebih sedangkan masa banyak lagi. Tetapi dalam hal akhirat, kita akan mati esok - jadi terpaksalah buat persiapan dengan lengkap dan berhati-hati kerana kita akan mati esok. Tafsiran begini jarang diterangkan oleh umum terutama pemburu harta di dunia.

Islam tidak menghalang umatnya mencari harta-benda dan kekayaan; asalkan ia tidak menghalang dari melakukan pengabdian kepada Allah. Malahan orang Islam yang kaya adalah amat diperlukan kerana ia adalah sumber ekonomi negara dan sebagai juruwang bagi saudaranya yang miskin dan memerlukan bantuan. Orang kaya adalah pembantu orang msikin, orang kuat adalah pelindung golongan yang lemah, orang alim sebagai sumber cahaya dan ilmu kepada orang jahil. Begitulah golongan ini saling bantu-membantu antara satu dengan lain. Apa yang Islam larang ialah meletakkan keduniaan sebagai sasaran utama dalam hidup melebihi hal-hal keakhiratan dan pengabdian kepada Allah. Sekiranya keduniaan diberikan keutamaan dalam hidup bererti konsep syahadahnya terjejas. Intipati syahadah ialah mengaku dengan sebenar-benar pengakuan bahawa Tiada lain yang lebih besar selain Allah dan pengakuan bahawa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ini bererti tumpuan pengabdian hakiki ialah Allah dan BUKANNYA harta-benda dunia. Jika kekayaan dunia dijadikan asas hidup berertilah kita telah membesarkan dunia daripada Allah sendiri; atau dalam kata-kata lain kita bertuhankan harta bukannya Allah. Di sinilah terpesongnya aqidah orang-orang kebendaan.

Sangat beruntunglah mereka yang mempunyai harta kekayaan yang menjadikannya sebagai modal untuk akhirat. Wang ringgit dipertaruhkan sebagai saham akhirat dengan bersedekah, mendirikan masjid, membantu fakir miskin dan anak yatim, menyelesaikan masalah dan keperluan jiran dan masyarakat sekeliling. Mereka inilah yang berjaya menukar harta menjadikan sebagai pahala atau membeli akhirat dengan dunia. Sebaliknya amat rugi mereka yang mempunyai wang ringgit dan harta kekayaan tetapi membelanjakan untuk perkara-perkara yang tidak mendatangkan sebarang faedah untuk akhiratnya; atau lebih dahsyat jika digunakan untuk kerja-kerja maksiat dan hiburan semata. Di akhirat akan ditanya Allah ke mana wang ringgit kita dibelanjakan dengan begitu halus dan tereperinci.

Dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menjelaskan bahawa kehidupan akhirat adalah lebih penting dan lebih kekal. Oleh itu sayugia bagi kita melebihkan kehidupan akhirat daripada dunia. Kehidupan di dunia hanya dalam tempoh terhad; jarang-jarang melebihi 90 tahun; tetapi akhirat tiada batasan waktu. Sudahlah begitu diriwayatkan satu hari di akhirat menyamai 1000 tahun di dunia. Jadi berapalah nilai umur dunia dibandingkah akhirat? Orang yang bijak tentunya berpandangan jauh iaitu untuk kehidupan akhirat. Ada di antara orang-orang alim dan para wali sangat mengambil berat tentang pengisian waktu dengan ibadat. Mereka tidak rela membuang masa begitu sahaja. Setiap saat bagi mereka adalah berharga dan mesti diisi dengan sesuatu ibadat supaya tidak terbuang begitu saja. Bagi mereka, setiap nafas yang turun naik akan dipersoalkan. Pada sebelah malam, mereka menggunakan masa untuk beribadat. Masa tidur mereka amat sedikit.

Sebaliknya mereka yang asyik mengumpul harta dunia untuk dunia adalah berfikiran sempit kerana tidak menjangkau alam abadi di akhirat. Ahli dunia saban masa memikirkan bagaimana nak mengumpul harta benda hingga menjadi kaya. Walaupun sudah kaya, mereka masih berusaha lagi supaya menjadi bertambah kaya; tanpa sedikit pun memikirkan bagaimana harta yang ada pada mereka hendak diinfaqkan di jalan Allah supaya hasilnya dapat dituai di akhirat kelak. Orang kaya begini pada hakikatnya adalah miskin kerana masih banyak memerlukan sesuatu.

Semasa perjalanan Israk Mikraj, Allah menunjukkan satu golongan yang menanam gandum dan kemudian menuainya. Baru lepas ditanam, terus berbuah dan dituai; begitulah seterusnya. Inilah ibarat orang yang membuat kebajikan sentiasa tak putus-putus menerima ganjaran pahala yang banyak di sisi Allah. Balasan pahala ini akan dinikmati kebahagiaannya di akhirat kelak.

Dinukilkan dalam sebuah kitab, seorang raja dihadiahkan orang sebuah piala minuman bertatahkan permata fairuz. Piala itu sangat cantik dan amat berharga. Raja sangat gembira menerima hadiah itu. Apabila seorang hukama datang berjumpa dengannya, raja itu bertanya kepadanya mengenai piala tersebut. Hukama itu berkata, "Aku tidak lihat apa-apa dari piala itu kecuali bala dan fakir." Raja tercengang dan berkata, "Mengapa kamu berkata begitu?" Hukama itu menerangkan, "Kalau piala itu pecah, sudah tentu ia tidak boleh dibaiki lagi dan hati menjadi susah atas bala yang menimpa. Kalau ia dicuri orang, tuanku akan bersedih atas kehilangan itu dan berasa seperti fakir. Bahkan sebelum tuanku dapat piala ini, tuanku tidak ada rasa apa-apa bahkan senang dengan keadaan begini, tetapi selepas ada piala ini, jika berlaku kehilangan tentu tuanku berasa amat sedih." Selang beberapa bulan, piala yang disayangi raja itu pecah berkecai. Raja itu menjadi sangat sedih dan hampa atas kehilangan piala itu. Dia kembali berjumpa hukama itu dan mengaku atas kebenaran kata-katanya. Kisah ini jelas membuktikan bahawa harta dunia yang kita sayangi tidak memberi apa-apa makna di dunia kecuali kesusahan dan kemiskinan. Bahkan dirasakan amat berat untuk meninggalkan harta itu semasa roh hendak kembali berjumpa Allah.

Sebagai kesimpulannya, kita hendaklah mempunyai pendirian berkaitan dengan penumpukan harta kekayaan. Yang lebih penting bagi kita ialah adakah kita akan diterima oleh Allah di akhirat kelak sebagai hambaNya yang soleh. Begitu juga adakah Nabi Muhammad saw akan mengaku atau mengiktiraf kita sebagai umatnya. Jika Allah tak mengaku hambaNya dan Nabi Muhammad saw tak mengaku kita sebagai umatnya, ke mana lagi kita nak pergi ketika itu? Ke mana tempat kita nak mengadu nasib? Di dunia bolehlah meminta bantuan dari kaum kerabat dan sebagainya tetapi di akhirat siapa lagi selain Allah dan rasulnya.. Akhirnya sama-sama kita meminta taufiq dan hidayat semoga kita berada di landasan sebenar sebelum kita dipanggil oleh Allah. Kita pohonkan keselamatan dan taubat di atas dosa-dosa kita dan mudahan kita kembali menemuiNya dalam keadaan Allah meredhai kita, insyaallah..
Read More >>
 setelah kesulitan ada kemudahan

Bismillahirrahmanirrahiim........
Inna Ma’al ‘Usri Yusra (Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan).

hay sobat,
Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah begadang ada waktu tidur, setelah sakit ada sembuh, pasti yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Lihatlah para petualang di sebuah gua yang gelap, setelah berjalan kesana kemari melihat setitik lobang cahaya. Karena apa? Karena Allah berfirman :” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau keputusan kepada kita dari sisiNya. Kata ‘Asa (mudah-mudahan) , dalam kamus Allah itu merupakan suatu kepastian, bukan seperti mudah-mudahan dalam bahasa lisan makhluk, yang tak pasti....

Beri kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar dari puncak gunung, dan celah-celah lembah, berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, bahwa dalam lamhatilbashar menurut pandangan Allah, akan ada kegembiraan, ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu.

Apabila kita melihat dan berjalan ditengah padang pasir nan tandus itu,.kita berjalan lagi..masih juga padang pasir,.berjalan terus,..sampai suatu saat kelak kita akan menemukan dedaunan hijau, perkampungan hijau, ada kehidupan disana. Semua itu kerana apa,..? Karena setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan.

Bila kita melihat tali itu kuat dan sambung menyambung, lihatlah suatu saat pasti akan ada terputus juga, dibalik kemelaratan, pasti ada kebahagiaan, didalam ketakutan, akan disertai rasa aman, dalam kegoncangan, setelah itu pasti angin itupun tenang kembali. Ombak menderu-deru, tidak selamanya ia berhembus terus, pasti ada masa tenangnya. Karena apa…? Karena Allah sudah berfirman :” Tuulijullaila finnahaari.. watuulijunnahaar a fillaili “( Allah menggantikan malam kepada siang,siang diganti malam). Masa regenerasi dan pergantian itu pasti ada.

Jadikanlah jeruk nipis itu menjadi manis !!
Orang yang cerdas, lagi pintar, akan merubah kerugian-kerugiannya kepada keberuntungan-keberuntungan. Sementara orang yang bodoh lagi selalu dalam keadaan bingung, akan menambah musibah menjadi dua musibah, bahkan musibah bertingkat-tingkat.

Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya Mekkah. Apakah beliau bersikap pesimis dan patah semangat? Tidak bukan? Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya, bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Madinah menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun asal negerinya yang beliau pernah diusir itu. Bayangkan, seorang yang ummi, tak tahu baca dan tulis , diusir dari kampung halamannya sendiri, dan oleh bangsanya sendiri, dapat merubah masyarakat dari lembah kejahiliahan, menjadi insan yang tahu ilmu, tahu nilai-nilai akhlak yang luhur, dan maju dalam perekonomian. Dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun.

Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk, apa yang terjadi pada beliau setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang terpukau, sya’ir-sya’ir beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang terkenal itu.

Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu disuguhkan seseorang secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula didalamnya biar terasa manis.

Apabila seseorang memberikan serigala yang galak kepadamu, maka ambillahyang berharga, tinggalkan yang tak berharga. Apabila kamu diserang dan digigit kalajengking, maka ambillah obat antibiotik dari binatang itu juga, karena didalamnya juga ada racun hidup yang dapat mematikan kuman. kulitnya

Jadikanlah pendingin didalam tubuhmu yang keras, dan panas itu sebagai penyeimbangnya. Agar keluar dari dalam tubuh kita bunga yang harum semerbak wanginya . Bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya. Semua ini karena apa..? Karena Allah berfirman : ” ‘Asaa antakrahuu syaiaan,wahuwa khairullakum “. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah yang terbaik untukmu. Begitupun sebaliknya, wa‘asaa antuhibbuu syaian wahuwa syarrullakum” Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga “. (QS. Al-Baqarah : 216)
Read More >>
Pernikahan Adalah Tiket Sekali Jalan

Pernikahan adalah tiket sekali jalan, jd pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.

Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa dan salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanjung jawab.

Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.

Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria dan wanita.

Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu. Ingat Better me sama dengan Better we.

3 kesalahan umum yang sering dilakukan suami :
  1. Tidak perhatikan perasaan istri.
  2. Laki lebih pakai logika, wanita pakai feeling.
  3. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
  4. wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
  5. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.
4 kesalahan umum yang sering dilakukan istri :
  1. Memberi petunjuk tanpa diminta.
  2. Mungkin bagi istri menunjukkan perhatian, tapi bagi suami merasa dikontrol.
  3. Mengeluhkan suami di hadapan orang lain.
  4. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (Istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga, miliki komitmen di bawah ini.
  1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
  2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
  3. Komitmen untuk saling membantu (Jangan mengkritik pasangan).
  4. Komitmen untuk punya romantic get away (Liburan berdua)
  5. Komitmen berkomunikasi dgn jelas (saling cerita, terbuka, jgn biasakan bilang tidak ada apa2 bila ada apa2, pasangan kita bukan dukun)
  6. Komitmen untuk bicara hal yg baik ttg pasangan (puji pasangan)
  7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
  8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
  9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
  10. Komitmen untuk hidup dalam kebenaran

     Pernikahan Adalah Tiket Sekali Jalan
Read More >>
Assalamualaikum wahai akhi/ukhti. Kali ini postingan saya membahas tips “pendekatan/ta’aruf yang baik menurut agama islam”.alasan saya kenapa saya harus posting tentang ini.agar kita sebagai pemuda – pemudi penghuni akhir zaman ini ,bisa saling mengingatkan bahwasannya islam itu memiliki aturan terhadap lawan jenis. Tipsnya yaitu :


 
  1. Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu’- khusyu’nya
    Setelah Antum bertemu dengan calon atau  mendapatkan data dan fotonya, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita.
  2. Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
    Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segeralah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.
  3. Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
    Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
    Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.
  4. Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
    Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
    Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.
  5. Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
    Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.
  6. Menentukan Waktu Khitbah
    Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.
  7. Tentukan waktu dan tempat pernikahan
    Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.
    Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.
    Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..
    Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin
Read More >>